0
04 Okt

"Bu bangun...bangun.!" Pa Darmawan terus menggoyang-goyang tubuh istrinya yang seperti mimpi buruk itu.
Tiba-tiba bu Darmawan bangun dengan nafas terengah-engah. Pak Darmawan pun segera mengambil air minum yang ada di meja. Segera saja bu darmawan pun meminum air.
"Astaghfirullah...astaghfirullah!" Berulang kali Bu Darmawan beristighfar.Dan suaminya hanya menatap dengan cemas.
"Ibu mimpi apa?"
Bu Darmawan segera memeluk suaminya dan menangis. Pak Darmawan hanya terdiam dengan membelai istrinya.Dengan perlahan pak Darmawan mencoba menenangkan.
"Ceritakan pada bapak, ibu mimpi apa?" Ucapnya dengan perlahan.
"Dalam mimpi ibu mendengar seorang anak yang menangis memanggil-manggil ibu. Ibu berusaha mencari-cari suara anak itu tapi ibu tak juga menemukannya. Sampai di suatu lembah ibu melihat seorang anak perempuan yang menangis tersedu-sedu memangil ibu, Lalu ibu memanggil anak itu.Tapi saat anak itu melihat ibu dia berkata,"Ibu kejam...ibu kejam... kenapa aku di buang?" Dan Tiba-tiba angin kencang menerpa dan ibu pun terbawa angin itu. Dan bapak membangunkan ibu." jelas ibu Darmawan dengan menangis lagi.
Segera Pak Darmawan memeluk istrinya dan menenangkannya dengan mengusap-ngusap punggungnya.
"Pak masih ingat tujuh belas tahun yang lalu, saat kita di usir oleh ibu? Kita pergi dari rumah mengikuti kaki melangkah dan tak tentu tujuan. Sampai di sebuah desa kita berteduh di sebuah gubuk karna hujan. Saat itu kita membawa anak yang masih satu bulan. Dan kita pun sepakat untuk menaruh anak itu.Sampai saat ini kita tak tahu kabarnya. Mungkinkah mimpi ini berhubungan dengan anak yang kita tinggalkan itu?" Lanjut ibu kembali.
"Bisa jadi seperti itu.Mungkin ini pertanda datangnnya dari Allah. Beliau mengingatkan untuk mencari anak kita. Kalau begitu besok bapak akan cari tahu tentang keberadaan anak kita itu bu." Dengan menatap istrinya. "Sekarang ibu istirahat, tenangkan hati ibu dan berdoa pada Allah."
Sepasang suami istri itu pun kembali merebahkan tubuhnya untuk melanjutkan tidurnya dengan pikiran menerawang ketujuh belas tahun yang lalu. Tampa terasa tetes air mata meleleh di kedua pipi pak Darmawan. Rasa berdosa menerpanya, dalam hatinya berkata,"Nak kamu di mana sekarang, maafkan bapak sama ibu nak, Ya Allah lindungi dan selamatkan anak kami jika dia masih hidup."

Bersambung...

Dikirim pada 04 Oktober 2010 di Cerpen
Profile

Berusaha menjadi muslim yang taat dan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk agamaku "Islam is my Life" More About me

Page
BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 195.634 kali


connect with ABATASA